About Center for International Forestry Research (CIFOR)
CIFOR-ICRAF harnesses the power of trees, forests and agroforestry landscapes to address the most pressing global challenges of our time - biodiversity loss, climate change, food security, livelihoods and inequity.
The Center for International Forestry Research is a nonprofit, global facility dedicated to advancing human wellbeing, environmental conservation and equity. We conduct research that enables more informed and equitable decision making about the use and management of forests in less-developed countries.
Our research and expert analysis help policy makers and practitioners shape effective policy, improve the management of tropical forests and address the needs and perspectives of people who depend on forests for their livelihoods.
Our multidisciplinary approach considers the underlying drivers of deforestation and degradation which often lie outside the forestry sector: forces such as agriculture, infrastructure development, trade and investment policies and law enforcement.
CIFOR focuses on the following research areas:
- Enhancing the role of forests in mitigating climate change.
- Enhancing the role of forests in adapting to climate change.
- Improving livelihoods through smallholder and community forestry.
- Managing trade-offs between conservation and development at the landscape scale.
- Managing impacts of globalised trade and investment on forests and forest communities.
- Sustainably managing tropical production forests.
Menghitung Harga Ekosistem Mangrove: Mengungkap potensi ekonomi, pendanaan, dan peran adaptasi
Menghitung Harga Ekosistem Mangrove: Mengungkap potensi ekonomi, pendanaan, dan peran adaptasi sang benteng pesisir.
Indonesia memiliki salah satu ekosistem mangrove terbesar di dunia. Dengan luas sekitar 3,21 juta hektare, Indonesia menjadi rumah bagi sekitar 20–23 persen mangrove dunia.
Namun, mangrove bukan hanya benteng alami yang melindungi pesisir. Ekosistem ini juga merupakan aset ekonomi yang sangat bernilai. Penelitian Landscape Alliance di Banyuasin, Sumatera Selatan, memperkirakan Total Economic Value (TEV) mangrove mencapai sekitar USD 14.700 per hektare per tahun. Nilai tersebut berasal dari berbagai manfaat, mulai dari perikanan, perlindungan pantai, penyimpanan karbon, keanekaragaman hayati, rekreasi, hingga peran krusialnya dalam adaptasi terhadap perubahan iklim dan jasa ekosistem lainnya.
Lalu, bagaimana sebenarnya nilai ekonomi mangrove dihitung? Mengapa konservasi mangrove dapat menjadi investasi yang menguntungkan bagi masyarakat dan negara? Dan bagaimana potensi ini dapat mendukung pembangunan berkelanjutan serta ekonomi biru Indonesia?
Dalam episode Podcast Bincang Hutan spesial Hari Mangrove Sedunia, kita akan mengupas berbagai pertanyaan tersebut bersama Beni Okarda, peneliti dari Landscape Alliance, dan Jerri Falson, Penilai Pemerintah Ahli Muda dari Kementerian Keuangan.
13 May 2026
Keadilan Gender dan Kesejahteraan: Melawan Tantangan dari Tingkat Tapak
Di tengah budaya patriarki yang masih mengakar, ketidakadilan gender masih menghantui. Berbagai faktor multidimensional semakin menekan kelompok rentan terutama perempuan yang harus memikul beban berlapis. Kondisi ini kian diperparah oleh krisis iklim, yang membuat akses terhadap sumber daya semakin terbatas.
Berangkat dari keresahan tersebut, berbagai inisiatif di tingkat tapak di Timor Tengah Selatan mulai tumbuh. Mulai dari pembentukan sekolah perempuan dan sekolah ayah (laki-laki) untuk membangun kesadaran atas kesetaraan dan keadilan gender, hingga gerakan ayah sebagai konselor pangan dan gizi keluarga.
Melalui proyek Land4Lives, CIFOR-ICRAF turut mendampingi petani—baik laki-laki maupun perempuan—dalam menerapkan pertanian cerdas iklim. Pendampingan ini mencakup pengembangan kebun belajar dan kebun dapur, serta penguatan kelompok usaha berbasis agroforestri dalam menyusun rencana bisnis dan mengembangkan usaha produktif.
Bagaimana gerakan-gerakan ini tumbuh dan berkembang?
Simak perbincangan inspiratif bersama Pendeta Saprianus dan Ratnasari hanya di Podcast Bincang Hutan
2 May 2026
Generasi Hijau: Literasi dan Aksi Pendidikan Restorasi
Mengapa pendidikan penting bagi upaya pemeliharaan lingkungan? Pertanyaan mendasar ini gaungnya makin terasa saat ini. Penggiat lingkungan kini banyak bersinergi dengan pemerintah daerah dan para guru memasukkan pendidikan lingkungan ke dalam muatan lokal kurikulum.
Nilai ini sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan adalah proses memberi teladan, menumbuhkan semangat, sekaligus memberikan dorongan. “Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani” bukan sekadar semboyan, tetapi cerminan bagaimana pendidikan dapat menggerakkan perubahan. Dalam konteks restorasi edukasi, pendekatan ini menjadi fondasi untuk generasi yang peduli akan kelestarian alam.
Kita semua setuju bahwa masih dibutuhkan penyempurnaan pendekatan pendidikan, salah satunya tentang restorasi edukasi, yang mampu mempersiapkan generasi muda Indonesia menjadi praktisi yang terampil dan adaptif untuk menghadapi beragam tantangan kerusakan lingkungan dan alam.
Dalam episode spesial Bincang Hutan dalam rangka Hari Pendidikan Nasional ini, kita akan berdiskusi tentang restorasi edukasi dari sudut pandang pendidikan perguruan tinggi bersama Nilo dan Alfa.
Contact Center for International Forestry Research (CIFOR)
Guest appearances
Books guests
Based on episode analysis; this does not confirm that the show is currently accepting guests.
Host of Center for International Forestry Research (CIFOR)?
Claim your podcast to manage its listing and keep your show details accurate.
Pod Engine is an independent podcast discovery and analytics service and is not affiliated with or endorsed by this podcast. Artwork and show content belong to their owners. Full legal notice.
Explore this show Podcast research with Pod Engine