

- 127
- Episodes
- 2021
- First episode
About Tulisan Votavato
Karena, anak introvert juga punya cerita untuk minta didengar
- Publisher
- Anisa Rahma
- Category
- arts
- Language
- he
- Explicit
- No
- First episode
- 2 Apr 2021
- Latest episode
- 6 Aug 2021
Latest episodes
127 episodes in the feed.

6 Aug 2021
Cerita fiksi: catatan psikopat #predator - bag. 27. Iseng | thriller horror #alurcerita
Di sebelah rumahku ada ruko yang biasa mengantarkan barang-barang dalam kardus ke toko-toko kecil hingga besar. Waktu aku sedang melihat aktivitas itu melalui balkon kamarku, ide jahil melintas dalam kepalaku. Karena aku tak suka menunda. Aku lalu turun ke bawah dan pergi ke sana. Ibuku yang sedang menyiapkan makan malam di dapur sempat menegurku mau kemana. Tapi kujawab bahwa aku mau belanja sebentar keluar. Ibuku hanya mengangguk setelahnya dan tanpa mencurigaiku sama sekali yang sedang menyembunyikan tang ditanganku. Aku tersenyum membalasnya. Aku lalu pergi keluar dan berbelok dengan mengendap memasuki ruko. Sebelumnya aku sudah mematikan listriknya sebentar agar aku tak ketahuan. Dengan menyelinap di antara tumpukan kardus yang berserakan aku akhirnya bisa sampai ke dalam. Ternyata ada banyak sekali barang di dalamnya. Aku lalu berjalan lebih ke dalam untuk melihat-lihat barang kali ada yang berbeda. Tapi ternyata sama saja. Di dalam hanya tumpukan kardus. Merasa bosan aku jadi ingat kembali dengan ide jahilku. Bersamaan dengan itu, lampu kembali dinyalakan. Kukira akan terang benderang. Ternyata hanya ada sedikit lampu yang menyala. Sebagian besar hanya remang. Seorang anak laki-laki yang kutaksir usianya masih tanggung alias kalau dia sekolah mungkin masih SMP ---menarik perhatianku. Aku rasa dia cocok jadi objek kejahilanku. Ah, persetan dengan orang-orang sekitarnya. Itu bukan urusanku. Ia saat itu sedang berada di pojokan sendirian. Tengah menyusun barang ke dalam kardus baru. Aku lihat-lihat sekitarnya tak ada siapapun. Ceh, berani sekali dia. Aku lalu mengendap mendekatinya. Dan saat sudah tepat berada di belakangnya, ternyata ada beberapa orang yang masuk mengampirinya. Aku terpaksa menunda. Kukira mereka segera pergi dari sana, tapi ternyata malah bertahan cukup lama. Aku mengintip jumlah mereka yang ternyata ada 5 orang. Itu masih sedikit dibanding yang pernah aku mainkan sebelumnya. Aku melihat pada jam di tanganku yang setengah jam lagi adalah waktunya ibu mengajakku makan malam. Sekali lagi kuperhatikan sekitar tak lagi ada karyawan lain selain hanya tersisa mereka berlima saat ini. Aku pun muncul bak maling yang ketahuan. Sengaja. Karena begitu mereka mengampiriku, aku langsung dapat menyentuh mereka dan mengontrol mereka sesuai kemauanku. Selagi mereka berdiri diam seperti orang bodoh, aku pergi ke depan untuk memastikan semua truk pengangkut telah pergi. Setelahnya barulah aku kembali masuk ke dalam. Tak ingin memakan banyak waktu. Aku memakai lebih dulu semua sarung pelindung jejak. Setelah itu, dengan menggunakan tang yang sedari tadi kugenggam, dengan bergantian aku menarik dan memutar hidung mereka satu persatu. Dilanjut dengan telinga yang membuat 3 di antara mereka langsung terputus. Sehabis itu aku mematahkan jari mereka dengan memutar geraknya membalik. Karena fungsi alatku terbatas, aku lalu berkeling mencari sesuatu yang lebih seru. Aku menemukan staples besar. Aku lalu menempelkan ke wajah mereka satu persatu hingga isi staples itu habis. Aku juga menemukan cutter. Tentu saja langsung kugunakan untuk menyayat daging mereka. Aku juga memotong nadi mereka hingga darah menggenang. Mereka masih bernapas walau lemah. Tapi efek pengaruhku terlalu kuat sampai membuat mereka sulit kembali sadar meski sudah kubuat hancur. Mereka hanya akan bisa kembali kalau aku mau saja. Aku lalu mengambil lima kardus. Tapi sebelumnya kubungkus dulu tubuh mereka dengan plastik sampai bisa terlipat dan dapat dimasukan kedalam kardus kecil. Barulah kemudian kumasukan lagi ke dalam kardus yang lebih besar. Aku pastikan kardus yang itu tidak ada noda darah yang menempel. Kupastikan dengan merekatkan kuat plester dan staples yang sudah kuisi lagi agar kuat menahan tubuh mereka. Aku lalu memindah kardus berisi calon bangkai itu ke bagian tumpukan kardus paling belakang. Setelahnya, aku akan menunggu malam ini atau besok pagi dengan keributan orang-orang yang melihat genangan darah b

5 Aug 2021
Cerita Fiksi: Miror Short - Bag. 20. Kamar Arwah | Mystery Horror #alurcerita
Waktu itu aku sempat heran dengan sebuah kamar di rumah nenekku yang besar. Kamar itu katanya dulu ditempati sama anak nenek yang meninggal waktu usianya masih seumuranku. Katanya dulu dia meninggal karena tewas terseret ombak saat berenang di laut. Hal yang membuatku heran bukan karena nenek masih membuat kamar itu masih rapi dan membiarkannya terlihat seperti terakhir kali ditinggalkan oleh pemiliknya. Melainkan ketika aku lihat semua frame di atas lemari dan yang tergantung di dinding, semuanya dalam keadaan kosong. Tak ada foto sama sekali. Bahkan foto dari pemilik kamar itu sendiri pun tidak ada sama sekali. Juga dengan lukisan. Itu jelas sekali bahwa kanvasnya kosong. Aku melihat itu saat tak sengaja masuk ketika pintunya dalam keadaan terbuka. Saat itu nenek sedang membersihkan dengan penyedot debu di dalamnya. Makanya aku sempat melihat isinya. Tapi, itu hanya sebentar saja karena nenek langsung menyuruhku keluar. Hal itu tak sempat aku tanyakan karena waktu itu tiba-tiba saja mama menelponku untuk segera pulang karena adikku sedang sakit dan ia mencariku. Dan hari ini aku sengaja kembali lagi ke rumah nenek untuk menuntaskan rasa penasaranku. "Nek, kamar yang sering nenek bersihkan itu kenapa frame sama lukisannya tidak ada gambar sama sekali?" tanyaku ketika aku dan nenek sedang makan malam. Nenek langsung menatap galak ke arahku membuatku menjadi tiba-tiba merasa takut dengan tatapannya. "Sudah berapa kali nenek ingatkan kamu untuk jangan masuk ke dalam kamar---" "Aku tidak sengaja masuk saat nenek sedang membersihkan kamarnya waktu itu. Dan aku sempat melihat isinya." potongku sebelum nenek menuduhku yang tidak-tidak. Setelah aku mengatakan hal itu, aku merasa ada yang berbeda dengan cara pandang nenek terhadapku. Ia seperti bukan nenekku tapi dia adalah nenekku. "Ini peringatan, jangan pernah ungkit mengenai kekosongan yang ada dalam kamar itu. Jika kamu bersikeras untuk mencari tahu. Maka, kamu akan menyusul anak itu." ucap nenek dengan suara yang berbeda.

31 Jul 2021
Musikalisasi puisi: maaf, jalanku terlalu lama sampainya
Saat ini aku memang seakan terlihat seperti pecundang yang jalan hidupnya nggak tahu mau dibawa kemana Kesannya juga aku kayak orang yang tidak memiliki tujuan hidup sama sekali Hidup sekedar hidup dan berjalan seperti air yang mengalir Tak jarang aku kerap kali mendapati dengan bagaimana sudut pandang orang terhadapku ketika mereka melihat apa yang terlihat dariku Dengan matanya yang penuh sorot penghakiman tanpa suara, aku tahu apa yang mereka pikirkan terhadapku saat itu "Kenapa dia masih begini-begini saja sih?" "Kenapa dia nggak berubah?" "Salah dia sih, ketika orang-orang pada sibuk berjuang, dia malah malas-malasan sibuk sama dunianya sendiri." "Umurnya saja yang menua, pikirannya tidak. Sampai untuk memikirkan kebahagiaan orangtuanya sendiri saja nggak." Hhh.. Tahu apa kalian dengan apa yang sudah aku lakukan selama ini? Apa kalian selama ini bersamaku sehingga bisa menyimpulkan seperti itu? Nggak, nggak ada orang lain di sampingku kecuali keluargaku sendiri Itupun mungkin mereka juga sempat berpikir bahwa... aku memang seperti apa yang oranglain pikirkan tentangku Hanya saja mereka diam Dan oranglain pun sama, cuma diam dengan pandangan mereka yang seperti itu Tapi sebenarnya aku pun tahu bahwa mereka kerap membicarakanku di belakang Nggak apa-apa, aku bisa mengerti kenapa kalian mau repot-repot lakukan hal itu Karena mungkin rasanya menyenangkan membicarakan sisi negatif manusia lain Selama ini aku memang tak pernah menunjukan diri dengan bagaimana terjalnya jalanan yang kutapaki penuh dengan kerikil Bagaimana aku yang sering mencoba memanjat tebing penuh pengharapan seorang diri sampai harus berkali-kali jatuh dan terluka begitu dalam Dan, bagaimana aku yang tak menemukan jalan keluar selain jurang dengan akar tajam di bawahnya Aku tak pernah menangis saat melewati semua hal itu sendirian Aku diam, diam, diam dan jalan terus saja Aku sadar bahwa pada akhirnya aku akan tetap jatuh ke bawah untuk kesekian kalinya Namun aku akan tetap memilih diam saja Kadang, saat terlalu lelah pun aku masih tetap berjalan meski dengan langkah yang gontai hingga merangkak Aku tidak tahu apakah perjalananku masih jauh atau tidak Entah jalanku yang salah atau memang prosesku saja yang lebih berat dan panjang dibanding orang lain Aku sempat ingin kembali dan memulai jalan yang baru dari awal Tapi aku tak mau, karena aku sudah terlanjur berjalan sejauh ini Berjalan sendirian tanpa seorang pun yang tahu Kadang air mata memang sempat keluar begitu aku mencoba lihat hidupku dari sudut pandangnya orang lain Aku telah gagal sepanjang jalan dan masih tetap berjalan di jalan yang sama Kenapa aku begitu bodoh sampai harus memilih bertahan di jalan yang nggak akan bisa bawa aku ke mana-mana Terkadang aku percaya dengan yang namanya keajaiban Tapi aku tidak bisa begitu berharap sebab, aku akan jadi apapun suatu saat nanti itu tergantung dari apa yang kulakukan sekarang Maaf jika aku tak pernah menujukan diri dengan bagaimana aku yang berjuang selama ini Maaf kalau kesannya aku seperti tidak peduli dengan kebahagiaan orangtuaku Maaf sudah membuat kecewa Tapi, asal kau tahu saja Aku tak sesantai yang kelihatannya Diamku adalah perjuangan yang sedang aku kerjakan Sebab, aku hanya bisa menulis dalam sunyi, seperti saat tulisan ini dibuat Maaf atas prosesku yang berjalan dalam diam selama ini Aku sadar, ini takkan mudah dan panjang Tak apa, ini adalah jalan yang sudah membuatku berjalan sejauh ini dan aku, tak akan pernah kembali lagi dengan jalur yang baru Mungkin? Entah
Contact Tulisan Votavato
- Guest appearances
- Does not typically book guests
Based on episode analysis; this does not confirm that the show is currently accepting guests.
Host of Tulisan Votavato?
Claim your podcast to manage its listing and keep your show details accurate.
Pod Engine is an independent podcast discovery and analytics service and is not affiliated with or endorsed by this podcast. Artwork and show content belong to their owners. Full legal notice.
Explore this show
Podcast research with Pod Engine