

- 254
- Episodes
- 2020
- First episode
About GKI Coyudan
Podcast resmi GKI Coyudan Solo
- Publisher
- GKI Coyudan
- Category
- religion & spirituality
- Language
- he
- Explicit
- No
- First episode
- 15 Mar 2020
- Latest episode
- 14 Mar 2022
Latest episodes
254 episodes in the feed.

14 Mar 2022
TEGURAN DAN PENYERTAAN TUHAN - Renungan Harian 14 Maret 2022
KELUARAN 33:1-6 Untuk yang kesekian kalinya bangsa Israel mengecewakan hari Tuhan dengan membuat Dan menyembah patung lembu emas. Melinat hal itu Tuhan marah Dan menghukum mereka. Itulah kisah singkat yang bisa kita rangkum dari Keluaran pasal 32, sebuah kisah yang terjadi tepat sebelum teks yang kita baca hari ini Kel 33. Dalam kekecewaannya pada bangsa Israel yang baru saja IA bebaskan itu, Allah tetep Adalah Allah yg mengasihi mereka. Sungguh jika kita Mau merenungkannya, tidak habis pikir melinat betapa Allah yang kecewa tidak menggunakan hakNya untuk meluapkan amarahNya yg bertubi-tubi pada bangsa Israel. Justru IA malah menyuruh mereka melanjutkan perjalanan kembali menuju negri yang dijanjikan Tuhan kepada Abrahama. Hanya kali ini Tuhan mengutus malaikatNya, Dan bukan diriNya sendiri yang ikut dalam perhalanan bangsa Mesir karena kekerasan hati bangsa Israel Akan membuat Tuhan marah kepada mereka. Tuhan menahan diriNya sedemikian rupa Dan tetap memberikan janji serta jaminan pemeliharaanNya kepada bangsa Israel ditengah kekecewaan hatiNya. Saat ini, apa yang terasa dalam hati kita masing-masing ketika membaca kisah ini? Adalah sungguh, sejatinya kita menyadari bahwa Tuhan juga kerap kali merasakan kekecewaan yang sama pada kita? Malu rasanya, karena meski IA begitu kecewa Dan marah, IA tetap memberikan janji penyertaanNya. Doa pagi: "Tak bisa kami mengerti betapa dalamNya kasihMu meski kami kerap kali mengecewakanMu.. " Pokok doa syafaat: 1. Persiapan kebaktian Minggu Pra Paska 3 2. Konflik peperangan Rusia- Ukraina 3 proses percepatan vaksinasi

16 Jun 2021
BERANI HIDUP BENAR - Renungan Pagi - 15 Juni 2021
Yeremia 22 :1-9 “Beginilah firman TUHAN: Lakukanlah keadilan dan kebenaran, lepaskanlah dari tangan pemerasnya orang yang dirampas haknya, janganlah engkau menindas dan janganlah engkau memperlakukan orang asing, yatim dan janda dengan keras, dan janganlah engkau menumpahkan darah orang yang tak bersalah di tempat ini!” Hidup kita tidak bisa lepas dari suatu perjanjian atau suatu kesepakatan bersama,seperti halnya dalam pekerjaan, pernikahan, maupun dalam kehidupan iman seperti Baptis dan Sidi maupun pelantikan pejabat gerejawi, penatua dan pendeta mengungkapkan janjinya kepada Tuhan. Bacaan pagi ini dari Yeremia 22: 1-9 juga berisi tentang peringatan perjanjian yang hendak diingatkan kembali oleh Yeremia kepada raja Yehuda. Pada zaman nabi-nabi sistem pemerintahan umumnya bersifat teokrasi (kepemimpinan yang berpusat pada Allah). Pengangkatan pemimpin di suatu tempat dilaksanakan sejauh diperkenankan oleh Allah. Bila raja yang memerintah tidak setia, maka Allah akan menolaknya. Oleh karena itu Kejatuhan Yehuda adalah bentuk penghukuman Tuhan dan ini dinilai sebagai akibat dosa para pemimpin yang tidak setia dan meyembah ilah lain. Pada saat itu, keadilan dan kebenaran yang merupakan kehendak Tuhan telah diinjak-injak. Para penguasa melakukan pemerasan, merampas hak orang miskin, menindas orang asing, anak yatim, dan janda. Bahkan pengadilan menghukum dan membinasakan orang yang tidak bersalah. Para pemimpin juga hanya mengejar keuntungan dan melupakan tanggung jawab terhadap rakyat yang dipimpinnya. Semua ini jahat dalam pertimbangan Tuhan, karenanya Ia akan menyerahkan umat-Nya kepada para musuh mereka. Bangsa itu, khususnya para pemimpin mereka, akan hidup menderita dan terbuang dari Tanah Perjanjian. Hukuman yang tak dapat dihindari kecuali dengan pertobatan para pemimpin dan seluruh umat. Kita bisa menarik kesimpulan bahwa jika seorang pemimpin telah menjadi pelaku ketidakadilan, hal itu adalah petunjuk yang kuat bahwa dia telah menduakan Allah. Dia tetap beribadah di gereja dan memuji Kristus, tetapi dia juga giat melayani kuasa, uang atau berhala yang lain. Seorang pemimpin yang takut akan Tuhan pasti akan taat melakukan perintah-perintah Tuhan, dan buahnya ialah ketulusan, kebenaran, keadilan, dan kesetaraan, penuh kasih. Tetapi jika buah yang timbul ialah ketidakadilan, bukan kebenaran, yang berkuasa bertindak sewenang-wenang, kita tahu bahwa itu bukanlah perintah Tuhan. Ada dua point dari penyampaian Yeremia. Yang pertama, selalu ada harapan bahwa untuk bertobat dan terhindar dari hukuman. Yang kedua, ialah peringatan yang diberikan Allah menunjukkan keadilan dan kemurahan Allah, yang mau memberi kesempatan kepada setiap umat. Bagi Yeremia, tidak mudah untuk menyampaikan ganjaran Tuhan bagi raja dan bangsanya. Tetapi, bagaimana pun juga ia harus mengatakannya. Tentu, bukan untuk memojokkan raja dan bangsanya melainkan supaya mereka bertobat. Situasi berat yang mereka alami diharapkan menjadi kesempatan introspeksi diri. Ia konsisten dengan tugasnya melayani Allah dan tidak pernah mau diajak berkompromi, terutama terhadap kejahatan. Akibatnya? ia kerap dimusuhi oleh penguasa dan bahkan teman-teman sepelayanan (para imam dan pemimpin agama) karena menyampaikan kebenaran. Tuhan tidak menyukai kelaliman dan kesewanang-wenangan yang adalah buah dari pengingkaran akan janji dan tanggung jawab kita pada Tuhan untuk hidup dalam kebenaran-Nya. Sikap Yeremia yang selalu teguh pada firman dan kebenaran Allah,berani menyuarakan kebenaran firman Allah dan siap menghadapi semua resiko, perlu kita teladani. Kehendak Allah dan kebenaran-Nya adalah yang utama dan harus terus diperjuangkan. Doa: “Ya Tuhan, begitu banyak hal yang mampu menggoyahkan iman kami. Begitu banyak pilihan diperhadapkan antara mengikut Engkau atau memuaskan diri kami. Tolonglah & kuatkanlah kami menjalani hari dalam kehendak dan kebenaran-Mu. Amin” - Cynthia J.K.

15 Jun 2021
KOTA YANG PENUH KEMULIAAN - Renungan Malam - 15 Juni 2021
Bacaan: Wahyu 21:22-22:5 ”Dan kota itu tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah meneranginya dan Anak Domba itu adalah lampunya.” Kota Yerusalem dalam bacaan pagi tadi penuh dengan kejahatan, walaupun di dalamnya ada Bait Allah. Itu karena raja Yehuda tidak taat kepada Allah, bahkan saat ditegur melalui nabi Yeremia, mereka tetap menyombongkan diri dan melawan Allah, sehingga pada akhirnya kota itu dihancurkan oleh musuhnya dan penduduknya dibawa ke Babel. Dalam bacaan kita petang ini, kota Yerusalem telah berubah menjadi kota yang sangat kokoh dan kuat, namun di dalamnya tidak terlihat lagi bangunan Bait Suci, karena Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, adalah Bait Sucinya. Bahkan kota ini tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah meneranginya dan Anak Domba itu adalah lampunya. Kota Yerusalem baru yang ditulis dalam Kitab Wahyu menggambarkan suasana kota yang penuh dengan kemuliaan. Bapa dan Anak Domba menjadi raja di kota itu dan semua bangsa menyembah mereka. Walaupun gerbang kota itu dibiarkan terbuka, namun tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta. Hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu yang bisa masuk. Yerusalem Baru menjadi tempat bagi mereka yang percaya kepada Anak Domba Allah, yaitu Yesus Kristus. Yesus melalui kematian dan kebangkitan-Nya telah mengalahkan maut. Tidak ada lagi dinding yang memisahkan orang-orang percaya dengan Allah Bapa, karena darah Anak Domba telah tercurah sebagai kurban pendamaian antara manusia dengan Allah. Tirai Bait Suci telah koyak, menandakan Allah berkenan langsung menjumpai umat-Nya, dan Roh Kudus hadir dalam kehidupan orang percaya. Oleh karena itu, berbahagialah orang yang percaya kepada Yesus Kristus, percaya kepada kebangkitan-Nya dan kenaikan-Nya ke sorga untuk mencarikan tempat bagi manusia yang percaya kepada-Nya. Sehingga semua orang percaya, yang namanya tercantum dalam Kitab Kehidupan, akan masuk dalam Kota Yerusalem Baru yang penuh kemuliaan. Saat ini masih banyak orang yang belum mengenal Kristus, maka bagi orang yang telah diselamatkan, masih ada waktu untuk bersaksi tentang kasih Kristus, tentang kota penuh kemuliaan yang disediakan bagi mereka yang percaya kepada Kristus. Kiranya Tuhan memberkati kita semua. Amin. POKOK DOA: Bersyukur untuk hari ini. Terus berdoa untuk bangsa Indonesia agar para pemimpinnya mendapat hikmat dari Tuhan sehingga memerintah negeri ini dengan takut akan Tuhan. Sujud Swastoko
Contact GKI Coyudan
- Guest appearances
- Does not typically book guests
Based on episode analysis; this does not confirm that the show is currently accepting guests.
Host of GKI Coyudan?
Claim your podcast to manage its listing and keep your show details accurate.
Pod Engine is an independent podcast discovery and analytics service and is not affiliated with or endorsed by this podcast. Artwork and show content belong to their owners. Full legal notice.
Explore this show
Podcast research with Pod Engine